SMK Pelita YNH mengambil peran aktif dalam riset energi terbarukan ini dengan memanfaatkan bahan baku yang selama ini sering dianggap sebagai limbah tak berguna, yaitu Minyak Jelantah. Sisa penggorengan yang biasanya dibuang dan mencemari saluran air, kini dikumpulkan secara kolektif untuk dijadikan bahan dasar penelitian. Melalui serangkaian proses kimia yang kompleks seperti pemurnian, transesterifikasi, hingga proses hydroprocessing, limbah berminyak ini diubah molekulnya agar sesuai dengan spesifikasi bahan bakar mesin turbin pesawat terbang.
Produk akhir yang dihasilkan dikenal dengan sebutan Bio-Avtur, sebuah inovasi bahan bakar berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel) yang mampu mengurangi jejak karbon secara drastis dibandingkan avtur konvensional. Di dalam Lab sekolah yang dilengkapi dengan peralatan modern, para siswa belajar bagaimana mengontrol suhu, tekanan, dan penggunaan katalis untuk memastikan hasil konversi yang optimal. Mereka harus memastikan bahwa produk yang dihasilkan tidak membeku di suhu ekstrem yang biasa ditemui di atmosfer atas, serta tidak menyebabkan korosi pada mesin pesawat yang sangat sensitif.
Kegiatan Mengolah limbah menjadi energi ini bukan hanya sekadar praktik kimia biasa, melainkan sebuah simulasi industri masa depan. Siswa diajarkan untuk menghitung nilai ekonomis dari setiap liter bahan bakar yang diproduksi serta bagaimana menjaga konsistensi kualitas hasil olahan. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata bagi mereka tentang bagaimana ekonomi sirkular bekerja, di mana limbah dari satu sektor bisa menjadi sumber daya yang berharga bagi sektor lainnya. Hal ini melatih daya kritis dan kreativitas mereka dalam melihat potensi di sekitar lingkungan.
Pemanfaatan Minyak Jelantah sebagai bahan baku juga memiliki dampak sosial yang luas. Sekolah bekerja sama dengan warga sekitar untuk mengedukasi agar tidak membuang minyak sisa ke selokan, melainkan menyetorkannya ke sekolah untuk diolah. Dengan demikian, program ini tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga meningkatkan kesadaran lingkungan di tingkat masyarakat akar rumput. Siswa menjadi agen perubahan yang memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di daerahnya masing-masing.